Ikang Fawzi & Marissa haque Duta LP3I di Langsa, Aceh Timur, Maret 2011

Ikang Fawzi & Marissa haque Duta LP3I di Langsa, Aceh Timur, Maret 2011
Ikang Fawzi & Marissa haque Duta LP3I di Langsa, Aceh Timur, Maret 2011

LP3I Langsa, aceh Timur, Kampung halaman Bapak Dr. Syahrial (Owner LP3I)

LP3I Langsa, aceh Timur, Kampung halaman Bapak Dr. Syahrial (Owner LP3I)
Marissa Haque & Ikang Fawzi: Promo LP3I Langsa, Aceh Timur, Maret 2011

Asmaul Husna, Islam, Aceh, Ikang Fawzi, Marissa Haque, LP3I

Asmaul Husna, Islam, Aceh, Ikang Fawzi, Marissa Haque, LP3I
Asmaul Husna, Islam, Aceh, Ikang Fawzi, Marissa Haque, LP3I

Duta LP3I Marissa Haque & Branch Manager LP3I Langsa, Aceh Timur, Bapak Zulkifli

Duta LP3I Marissa Haque & Branch Manager LP3I Langsa, Aceh Timur, Bapak Zulkifli
Duta LP3I Marissa Haque & Branch Manager LP3I Langsa, Aceh Timur, Bapak Zulkifli

Pendaftaran LP3I Tahun Ajaran 2010-2011

Telah dibuka Pendaftaran siswa baru tahun Ajaran 2010-2011 Semua Jurusan LP3I Business College Cabang Langsa. Informasi Pendaftaran Silakan Datang Langsung Ke LP3I Cabang Langsa JLN.ISKANDAR SANI NO. 10-11. KAMPUNG MEUTIA KOTA LANGSA. TELP. 0641 22312, SMS 081269246490 atau Melalui Pendaftaran Online KLIK DISINI

Kamis, 07 April 2011

NASA (Vivanews.com) dalam Marissa Haque Fawzi: Foto Keajaiban Tsunami Aceh

VIVAnews - Pada 26 Desember 2004, gempa bumi bawah laut 9,1 skala Richter mengguncang Samudera Hindia di lepas pantai Sumatera Utara, Indonesia. Dampak gempa itu begitu kuat sampai 1.200 kilometer dari pusat gempa, hingga mencapai Alaska.

Gempa dahsyat itu memicu tsunami mematikan. Tsunami menyapu sejumlah pantai di Samudera Hindia hingga ketinggian 30 meter. Lebih dari 230.000 orang tewas dan jutaan lainnya kehilangan tempat tinggal.

Situs Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA, mengabadikan foto Aceh, sebelum dan sesudah diterjang gelombang gergasi, tsunami.

Salah satu foto menggambarkan kondisi Kota Lhoknga, di pantai barat Sumatera dekat Ibukota Aceh, Banda Aceh. Kota itu rata dengan tanah.

Namun, sebuah keajaiban tampak. Dalam foto terlihat fitur melingkar berwarna putih. Itu adalah sebuah masjid yang selamat dan berdiri kokoh di tengah segala kehancuran.

NASA: Aceh pasca tsunami1

NASA: Aceh sebelum tsunami1
Foto selanjutnya direkam menggunakan instrumen Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) di Satelit Terra milik NASA.

Foto ini menggambarkan kondisi sebelum tsunami pada pada 17 Desember 2004, dan tiga hari paska bencana, 29 Desember 2004 (atas).

Awalnya, terlihat vegetasi hijau di sepanjang pantai barat, juga bentangan pasir putih. Setelah gempa dan tsunami, wilayah pantai tampak berwarna coklat keunguan.

NASA: Aceh pasca tsunami3

NASA: Aceh sebelum tsunami3

Foto lain diambil instrumen Landsat 7 Enhanced Thematic Mapper Plus (ETM +) menunjukkan area kecil di sepanjang pantai Sumatera di Provinsi Aceh, di mana tsunami menghancurkan jalan darat.

Di daerah ini, gelombang raksasa menyebabkan kerusakan total di area 1,5 kilometer persegi dari bibir pantai. (art)

NASA: Aceh pasca tsunami2

NASA: Aceh sebelum tsunami2

• VIVAnews
http://nasional.vivanews.com/news/read/195543-nasa--ini-foto-keajaiban-tsunami-aceh

Iskandar Norman dalam Marissa haque & Ikang Fawzi: Catatan Perjuangan di Aceh

138 Tahun Invansi Belanda ke Aceh

26 Maret 2011, tepat 138 tahun peristiwa paling bersejarah bagi Aceh terjadi; Belanda menyatakan perang terhadap Aceh.

Jendral Kohler

Jendral Kohler

RABU, 26 Maret 1873, di atas kapal Citadel van Antwerpen, Kerjaan Belanda menyatakan maklumat perang dengan Kerajaan Aceh. Setalah itu serangan besar-besaran dilakukan ke daratan Aceh. Belanda gagal total, Panglima Perang Belanda, JHR Kohler tewas.

Surat pernyataan perang oleh Belanda itu ditulis pada 26 Maret 1873, dan disampaikan kepada Sultan Aceh pada 1 April 1873. Pernyataan perang itu antara lain berbunyi. “Dengan ini, atas dasar wewenang dan kekuasaan yang diberikan kepadanya oleh Pemerintah Hindia Belanda, ia atas nama Pemerintah, menyatakan perang kepada Sulthan Aceh..”

Pernyataan perang pihak Belanda itu dijawab dengan tegas oleh Sulthan Alaiddin Mahmud Syah pada hari itu juga. “…kita hanya seorang miskin dan muda, dan kita sebagai juga Gubernemen Hindia Belanda, berada di bawah perlindungan Tuhan yang maha kuasa…,”

Penolakan secara halus itu membuat Belanda berang dan berencana untuk melancarkan serangan ke Aceh setelah membacakan maklumat perang terhadap Aceh. Maklumat itu dibacakan setelah beberapa kali surat menyurat yang tegang antara sultan Aceh dengan Komisaris Pemerintah Belanda, Niewenhuijzen yang berlindung di atas kapal perang Citadel van Antwerpen.

Menurut Ali Hasjmy dalam “Peranan Islam dalam Perang Aceh” isi surat penolakan itu terkesan lembut, tapi pada hakikatnya adalah suatu pernyataan keteguhan hati dan iman seorang muslim sejati yang hanya mengakui kekuasaan dan perlindungan Tuhan.

Untuk menghadapi ancaman Belanda itu, maka Sultan Alaiddin Mahmud Syah menggelar musyawarah kerajaan pada 10 Zulkaidah 1288 Hijriah (1872 Masehi) di dalam Mesjid Baiturrahim Daruddunia. Dalam musyawarah itu hadir para ulama besar, menteri dan uleebalang seluruh Aceh.

Kala itu Sulan Aceh menjelaskan tentang bahaya yang sedang mengancam Aceh, yakni datangnya imperialis Belanda yang akan memerangi Aceh. Terhadap ancaman itu, muasyawarah melahirkan kesepakatan dan keputusan akan melakukan perang total kalau Belanda menyerang Aceh.

Sebagai tanda kesepakatan tekad itu, maka para peserta musyawarah mengucapkan sumpah. Pengambilan sumpah dipimpin oleh Kadli Mu’adhdham Mufti Besar Aceh, Syekh Marhaban bin Haji Muhammad Saleh Lambhuk dengan disaksikan oleh para alim ulama Aceh. Sumpah tersebut berbunyi:

“Demi Allah, kami sekalian hulubalang khadam Negeri Aceh, dan sekalian kami yang ada jabatan masing-masing kadar mertabat, besar kecil, timur barat, tunong baroh, sekalian kami ini semuanya, kami thaat setia kepada Allah dan Rasul, dan kami semua ini thaat setia kepada Agama Islam, mengikuti Syariat Nabi Muhammad Saw, dan kami semua ini thaat setia kepada raja kami dengan mengikuti perintahnya atas yang hak, dan kami semuanya cinta pada Negeri Aceh, mempertahankan dari pada serangan musuh, kecuali ada masyakkah, dan kami semua ini cinta kasih pada sekalian rakyat dengan memegang amanah harta orang yang telah dipercayakan oleh empunya milik. Maka jika semua kami yang telah bersumpah ini berkhianat dengan mengubah janji seperti yang telah kami ikral dalam sumpah kami semua ini, demi Allah kami semua dapat kutuk Allah dan Rasul, mulai dari kami semua sampai pada anak cucu kami dan cicit kami turun temurun, dapat cerai berai berkelahi, bantah dakwa-dakwi dan dicari oleh senjata mana-mana berupa apa-apa sekalipun. Wassalam.”

Sumpah ini kemudian dimasukkan dalam sarakata Baiat Kerajaan, bertulis tangan dengan huruf Arab. Naskahnya ditemukan kembali dalam dokumen peninggalan Wazir Rama Setia Kerajaan Aceh Said Abdullah Di Meulek. Naskah asli kini disimpan Said Zainal Abidin salah seorang keturunan Di Meulek, sementara foto kopinya ada di Pustaka Ali Hasjmy di Banda Aceh.

Belanda Menyerang Aceh

Setelah maklumat perang dinyatakan pada 26 Maret 1873, sebulan kemudian, Senin, 6 April 1973, Belanda mendaratkan pasukannya di Pante Ceureumen, Ulee Lheue dibawah pimpinan Mayor Jenderal J.H.R Kohler.

Tak tanggung-tanggung, dalam penyerangan pertama ke Aceh itu, Belanda mengerahkan enam kapal perang, yakni Djambi, Citaden van Antwerpen, Marnix, Coehoorm, Soerabaya, dan kapal perang Sumatera. Ditambah Siak dan Bronbeek, dua kapal angkatan laut Pemerintah Belanda.

Selain itu ada lima barkas, delapan kapal ronda, satu kapal komando, enam kapal pengangkut, serta lima kapal layar, yang masing-masing ditarik oleh kapal pengangkut. Tiga diantaranya untuk mengangkut pasukan alteleri, kavelari, dan para pekerja, satu untuk amunisi dan perlengkapan perang, serta satu kapal lagi untuk mengangkut orang-orang sakit.

Armada Belanda tersebut dipimpin oleh Kapten laut J.F Koopman dengan kekuatan 168 orang perwira yang terdiri dari 140 orang Eropa, serta 28 orang Bumiputere, 3.198 pasukan yang 1098 diantaranya orang-orang Eropa, sisanya 2.100 orang tentara dari Bumi Putera, yakni tentara bayaran Belanda dari Jawa.

Pasukan itu juga diperkuat dengan 31 ekor kuda perwira, 149 kuda pasukan, 1.000 orang pekerja dengan 50 orang mandor, 220 wanita dari Jawa yang masing-masing ditempatkan 8 orang untuk satu kompi tentara Belanda, serta 300 pria dari Jawa untuk pelayan para perwira Belanda. Dalam penyerangan perdana Belanda ke Aceh itu, Kohler dibantu oleh Kolonel E.C van Daalen, Wakil Panglima merangkap Komandan Infantri.

Begitu mendarat, pasukan Belanda langsung digempur oleh pasukan Aceh, terjadilah perang sengit. Setelah bertempur dengan susah payah, pada 10 April 1873, Belanda dapat merebut Mesjid Raya. Akan tetapi karena tekanan-tekanan dari pejuang Aceh yang dipimpin Tgk Imuem Lueng Bata, Belanda pun harus meninggalkan Mesjid Raya.

Empat hari kemudian, 14 April 1873, Belanda kembali mencoba untuk menyerang Mesjid Raya. Dalam pertempuran tersebut Panglima Perang Belanda, Mayor Jenderal J.H.R Kohler tewas ditangan pejuang Aceh. Tujuan Belanda untuk menguasai Dalam (Kraton-red) gagal total.

Pada pertempuran itu selain Kohler dipihak Belanda juga tewas delapan orang perwira. Belanda benar-benar mendapat tamparan dari perlawanan gigih pejuang Aceh. Tiga hari setelah Kohler tewas, Belanda mengundurkan diri ke pantai, setelah mendapat izin dari Pemerintah Hindia Belanda di Batavia (Jakarta-red) pada 23 April 1873. Kapal-kapal angkatan perang Belanda itu pun meninggalkan Aceh pada 29 April 1873, kembali ke Batavia.

Karena Belanda mengalami kegagalan dalam penyerbuannya ke Aceh, tak lama kemudian Jenderal G.P Booms dalam bukunya “De Erste Atjeh Expediti en Hare Enguete” mengecam Pemerintah Kolonial Belanda di Batavia atas kegagalan tersebut, karena dinilai terlalu menganggap remeh kekuatan Aceh.

Dalam buku itu ia menulis, “Blijkbaar rekende men dus op een gemakkelijke overwinning. De feiten, een jarenlange ervaring, hebben echtar getoond, dat men te maken had men telrijken, energieken vijand,…met een volk van een ongekende doodsveracting,dat zich onverwinbaar achtte…die ervaring leert in een woord, dat wij niet gestaan hebben tegenover een machteloozen sultan wiens rijk met den valvan zijn kraton zou ineenstorten maar tegenover een volksoorlong,die behalve over al de materieele middelen vaqn het land, over geweldige moreele krachten van fanatisme of patriotisme beschikte..”

Artinya: telah diperkirakan suatu kemenangan yang akan diperoleh dengan mudah. Akan tetapi, pengalaman bertahun-tahun lamanya memberikan petunjuk, bahwa yang dihadapi itu adalah musuh dalam julah besar yang sangat gesit ….. suatu bangsa yang tidak gentar menghadapi maut, yang menganggap ia tidak dapat dikalahkan…. Pengalaman itu memberi pelajaran, bahwa kita tidak dapat mengahadapi seorang Sultan, yang kesultanannya akan berubah dengan jatuhnya kraton, akan tetapi kita menghadapi rakyat yang menentukan harta benda negara, memilki tenaga-tenaga moril, seperti cinta tanah air.”

Dalam sidang Palemen Belanda ada tanggal 15 Mei 1877, Menteri Urusan Koloni, Belanda memberikan jawaban atas interpelasi yan menyoalkan kegagalan Belanda itu, “Wij hebben te trotseeren gehad een ongekande doodsveracthing, een volk dat zich onverwinbaar achtte.” Artinya “Kita telah menghadapai maut, bangsa yang menganggap ia tidak sedikit pun gentar menghadapi maut, bangsa yang menganggap ia tidak mugkin dapat dikalahkan.”

Kegagalan Belanda itu terus saja dibicarakan, sampai Belanda pun menaruh hormat atas keberanian pejuang Aceh baik pria maupun wanita. Rasa hormat itu sebagaimana diungkapkan H C Zentgraaff dalam bukunya “Atjeh” ia menulis. “De atjehschevrouw, fier en depper, was de verpersoonlijking van den bittersten haat jegens ons, en van de uiterste onverzoenlijkheid an als zij medestreed, dan deed zij dit met een energie en doodsverachting welke veelal die der mennen overtroffen. Zij was de draagster van een haat die brandde tot den rand van het graf en nog in het aangezicht van den dood spuwde zij hem, den kaphe in het geizcht”.

Artinya “Wanita Aceh gagah dan berani mereka pendukung yang tidak mungkin didamaikan, terhadap kita dan bila ia turut serta bertempur, dilakukannya denga gigih dan mengagumkan, bersikap tidak takut mati yang melebihi kaum pria. Ia mempunyai rasa benci yang menyala-nyala sampai liang kubur dan sampai saat mehhadapi maut, ia masih mampu mendahului muka si kaphe.”

Zentgraaff menilai, wanita Aceh dalam setiap perang menolak setiap perdamaian dan lebih berwatak keras dengan berprinsip membunuh atau dibunuh. Pujian Zentgraaff terhadap wanita Aceh muncul setelah ia menemuai Pocut Di Biheue, seorang wanita pemberani yang menyerang patroli Belanda seorang diri. Kemudian ada lagi kisah keuletan Pocut Baren, yang kakinya harus diamputasi.

Ada lagi kisah istri Teungku Mayed Di Tiro, putra Tgk Chik Di Tiro. Dalam pertempuaran pada tahun 1910, meski sudah dikepung pasukan Belanda, Tgk Mayed Di Tiro bisa meloloskan diri atas bantuan istrinya. Sementara istrinya tertangkap dengan luka para di tubuhnya, sewaktu komandan pasukan Belanda hendak memberikan pertolongan, ia menolaknya. “Bek ta mat kei kaphe budok (jangan sentuh aku kafir celaka),” hardiknya dengan suara lantang. Ia lebih memilih syahid dari pada mendapat pertolongan dari kafir.

Hal yang sama juga diakui oleh Panglima Perang Belanda di Aceh, Jenderal Van Pel. Dalam buku ES Klerek: History of Netherland Eas Indie ia mengakui jatuhnya mental tentara Belanda akibat perlawanan sengit dari rakyat Aceh. Ia menulis:

“The proclamation of direct rule over Acheh pi proper had been a mistaken idea; there could be not question of conquest for the time being, the standing army in Acheh beingdepleted by the heavy losses suffered and the consequent large drainage of force.” (Proklamasi tentang langsung dijajah/diperintah Aceh, sesungguhnya adalah cita-cita yang amat salah. Sebenarnya soal menang tidak ada waktu itu. Keadaan serdadu di Aceh sangat menyedihkan karena menderita kekalahan hebat dan akibatnya kemusnahan kekuatan yang besar).[]

Penulis Iskandar Norman

Show Musik di Aceh oleh Mbak Vonny Lidia Edi: dalam Marissa Haque & Ikang Fawzi

Sejumlah Artis "Tempo Dulu" Hibur Aceh

Entertaiment | February 18, 2010 at 22:53

Mbak Vonny Lidia Edi adalah Ibu Bhayangkari yang sangat gesit sebagi seorang EO, Kami sering terundang ke aceh dan Medan bersamanya. Mbak Vonny adalah alumni LP3I di Kota Banda Aceh. Jadi selain bersahabat, kami juga bersaudara LP3I. Semoga mbak Vonny selalu maju dan sejahtera adanya.

Doa kami,
Ikang Fawzi & Marissa Haque

(ANTARA News) – Sejumlah artis papan atas yang pernah populer pada tahun 80-an akan menghibur para fans setia mereka di Kota .

“Beberapa artis ` ` seperti Ahmad Albar, Obbie Mesakh, Dian Pisesa dan Christine Panjaitan akan menghibur penggemarnya di ,” kata panitia konser, Ayi Sarjev di , Kamis.

Koser bertajuk “Tembang Kenangan” itu akan digelar di Hermes Palace Hotel pada Sabtu, 20 Februari mendatang dan Panitia hanya menyediakan 300 tiket masuk sehingga tempat sangat terbatas.

Menurut Ayi, konser tersebut menjadi ajang silaturrahmi untuk mempertemukan kembali para artis legendaris dan penggemarnya yang ada di tanah rencong.

Selain itu juga untuk memberi hiburan kepada masyarakat yang telah merasakan perdamaian setelah konflik dan setelah bangkit kembali dari musibah tsunami 2004.

Namun bagi fans yang tidak mendapatkan tiket bisa menyaksikan langsung penampilan artis-artis legendaris itu di TVRI.

Pada konser itu, rocker “gaek” Ahmad Albar akan membawa lagu nostalgia seperti pangung sandiwara dan bis kota.

Sementara Obbie Mesakh juga bakal menyapa penggemarnya dengan single-nya yang sempat melejit yaitu kisah kasih di sekolah.

Bukan hanya artisnya yang terkenal, konser juga akan dipandu presenter kawakan, Helmi Yahya.

Selain diisi artis ibukota yang terkenal di jamannya, konser tersebut juga akan dimeriahkan sejumlah seniman lokal Moriza Taher sang pianis dan penampilan Rapa`i Geleng.

(D016/R009)

Source: AntaraNews.com – Hiburan

OTisTa-SCTV : Ikang Fawzi Suami Marissa Haque & Helmalia Putri Kunjungi Korban Tsunami



Ikang Fawzi Suami Marissa Haque &
Helmalia Putri Kunjungi Korban Tsunami

Kapanlagi.com - Ikang Fawzi dan Helmalia Putri telah menunjukan kepedulian mereka pada penderitaan korban tsunami dengan mengunjungi sejumlah pasien yang dioperasi di RS Nanggroe Aceh Darussalam. Ikang mengunjungi Aceh tersebut sebagi duta Bulan Sabit Merah Indonesia.

Berhubungan dengan tugas barunya ini Ikang megaku menikmatinya. Dalam ungkapanya yang dikutip acara selebriti O-Tis-Ta, SCTV suami Marissa Haque ini mengatakan hal semacam ini tak dapat dibeli.

Sedang Helmalia menunjukan perhatiannya dengan mendekati beberapa pasien satu per satu. Helmalia mengaku terkejut dengan banyaknya pasien akibat bencana tsunami tersebut. (sct/erl)

Sumber: http://www.kapanlagi.com/showbiz/selebriti/ikang-fawzi-helmalia-putri-kunjungi-korban-tsunami-qmewu4f_print.html

Hari Cut Nyak Dhien Tak Pernah Ada: Marissa Haque dalam Shahnaz Haque

Shahnaz Haque: Mengapa tidak Ada Hari Cut Nyak Dhien?

Hari Cut Nyak Dhien Tak Pernah Ada: Marissa Haque dalam Shahnaz Haque
Kami Berenam Insya Allah Kompak

BANDA ACEH – Artis dan presenter ibukota, Shahnaz Haque mengaku jatuh hati dan mengidolakan pahlawan nasional perempuan asal Aceh Cut Nyak Dhien sejak kecil. Ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, ia bertanya pada guru di sekolahnya, kenapa Indonesia tidak memperingati Hari Cut Nyak Dhien? Shahnaz kecil kritis bertanya mengapa Indonesia hanya punya Hari Kartini.
“Apa karena selama ini presidennya orang Jawa? Kalau presidennya orang Aceh mungkin ada Hari Cut Nyak Dhien. Itu pertanyaan saya waktu umur 10 tahun,” kata istri Gilang Ramadhan itu, usai bertindak menjadi moderator talkshow “Tetap Sehat dengan Diabetes Mellitus” yang diselenggarakan oleh Prodia, di Hermes Palace Hotel, Banda Aceh, Sabtu (8/11).

Adik dari Marissa Haque dan Soraya Haque ini mengetahui banyak tentang Cut Nyak Dhien lewat ibunya. Mieke, sang ibu suka membacakan buku-buku pahlawan sebagai pengganti dongengan fiksi. “Hebat engga tuh ibu saya. Dia ceritakan tentang Dewi Sartika, Kartini, Cut Nyak Dhien, Christina Martha Tiahahu, sebelum tidur. Di antara semua pahlawan wanita itu, saya paling jatuh hati sama Cut Nyak Dhien,” sebut wanita kelahiran Jakarta, 1 September 1972 ini.

Bagi Shahnaz yang energik sejak kecil, cenderung memilih perjuangan seperti Cut Nyak Dhien yang menurutnya trengginas. Ia kagum Cut Nyak Dhien sebagai perempuan punya multitalenta, lebih banyak berbuat daripada menulis-nulis saja. “Begini nih pikiran aku dari kecil, kayaknya jika aku jadi pahlawan aku pasti pengen yang kayak Cut Nyak Dhien,” kenangnya.

“Hingga sekarang Indonesia belum menjadikan Hari Cut Nyak Dhien diperingati secara nasional. Indonesia baru punya Hari Kartini, padahal Cut Nyak Dhien kan inspiratif sekali,” tuturnya bersemangat dan mendukung adanya peringatan Hari Cut Nyak Dhien secara nasional.

Menurutnya untuk lebih maju, perempuan Aceh hanya perlu diberikan banyak kesempatan. “Kita punya Cut Nyak Dhien bukan? Seratus tahun Cut Nyak Dhien baru saja diperingati. Malulah sama almarhumah Cut Nyak Dhien dan Laksamana Malahayati kalau perempuan Aceh tidak maju,” gugahnya.

Di masa sekarang ia juga mengagumi sosok Eli Risman, ahli parenting asal Aceh. “Saya melihat bagaimana ibu Eli Risman yang sangat Aceh itu maju aktif dan inspiratif sekali. Buat saya tidak ada alasan perempuan Aceh tidak maju. Karena dari nenek moyangnya perempuan-perempuan Aceh punya energi lebih banyak, lebih kuat dan tabah daripada perempuan lain,” simpul penyuka ayam tangkap, kuliner khas Aceh ini.

Kedatangan pemilik nama lengkap Shahnaz Natasya Haque kali ini, sudah lebih dari 25 kali ke Aceh. Dibalut busana muslimah hijau dipadu kerudung, ia tampil cerdas dan memikat memandu kegiatan yang diikuti ratusan peserta talkshow Kendali Diabetes Cegah Komplikasi bersama Prodia tersebut. “Waktu tsunami saya menjadi relawan bersama Imam Prasodjo dengan Nurani Dunia sampai satu bulan. Saya sudah mengelilingi Aceh, termasuk ketempat-tempat terpencil,” ujar lulusan Fakultas Tehnik Sipil UI 1996 itu.

Ditanya tentang adanya piagam Women Charter di Aceh sebagai event pertama di dunia, ia merasa memang sudah waktunya perempuan-perempuan diberikan penghargaan, apalagi perempuan di Aceh. “Perempuan mesti mendapatkan pendidikan yang jauh lebih baik, mendapat kesempatan meningkatkan potensi secara optimal supaya dapat melakukan banyak hal,” papar bungsu dari pasangan Allen dan Mieke ini.

Ibu tiga anak, Prustin Aisha, Charlotte Fatima, dan Mieke Namira ini ingin membentuk anaknya menjadi pribadi mandiri. Ia suka membawa anaknya mengenal alam dan menumbuhkan pribadi petualang. “Saya lebih suka mengajak anak-anak saya main ke alam daripada ke mall. Ke pantai, sungai, main dengan sapi atau kerbau. Saya ingin anak-anak saya punya pribadi adventurer, yang berani mengambil resiko. Punya kecerdasan emosional yang baik, dan temannya banyak,” pungkasnya. (ami)

(1) Sumber: http://syukriy.wordpress.com/2008/11/11/shahnaz-haque-mengapa-tidak-ada-hari-cut-nyak-dhien/

(2) Serambi Indonesia, 09/11/2008., aceh, cut nyak dien

Marissa Haque: Aceh Aman untuk Dikunjungi

Banda Aceh, 1 April 2004 12:50

Sumber: http://www.gatra.com/2004-04-01/artikel.php?id=35190

Aktris senior Marissa Haque menilai, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) ternyata cukup aman dan tidak seperti dibayangkan orang-orang yang berada di luar daerah Serambi Mekah itu.

"Saya mendengar di luar bahwa Aceh itu menyeramkan, sehingga membuat keluarga dan kalangan kerabat saya menjadi khawatir ketika saya memutuskan untuk berkunjung ke daerah ini," katanya kepada Antara di Banda Aceh, Kamis.

Ia menjelaskan, kondisi keamanan di provinsi berpenduduk sekitar 4,2 juta jiwa itu sesungguhnya tidak seperti yang banyak digambarkan orang-orang yang berada di luar Aceh.

"Ketika menelepon keluarga bahwa saya sudah mendarat di Aceh, spontan keluarga di Jakarta menanyakan apakah kondisi Aceh aman, dan terus mengingatkan agar saya berhati-hati," ujar Marissa Haque, yang akrab dipanggil Icha itu.

Kehadiran Marissa Haque ke provinsi yang sedang digelar operasi terpadu dengan tingkat darurat militer itu untuk berkampanye bagi partai politik PDI Perjuangan. Selain itu, isteri penyanyi rock Ikang Fauzi tersebut juga akan menjadi salah seorang pemakalah dalam seminar tentang kebudayaan Aceh.

Di pihak lain, Marissa menyatakan kagum atas sikap ramah dan sopan masyarakat terutama kaum perempuan di daerah Serambi Mekah itu.

"Saya kagum dengan perempuan Aceh yang begitu gigih dalam bersikap dan memperjuangkan nasibnya meski daerah ini sedang dilanda konflik bersenjata. Saya mendengar bahwa cukup banyak kaum perempuan Aceh yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarganya," ujarnya. [Tma, Ant]

Tentang Gempa Bumi di Aceh: Marissa Haque & Ikang Fawzi


Duta LP3I Hj.Marissa Haque & Undangan LP3I Langsa, Aceh Timur Kampung Halaman Dr. Syahrial

Duta LP3I Hj.Marissa Haque & Undangan LP3I Langsa, Aceh Timur Kampung Halaman Dr. Syahrial
Duta LP3I 2010-2011, Hj. Marissa Haque & Ikang Fawzi: Promo LP3I Langsa, Aceh Timur, Maret 2011

Entri Populer