Ikang Fawzi & Marissa haque Duta LP3I di Langsa, Aceh Timur, Maret 2011

Ikang Fawzi & Marissa haque Duta LP3I di Langsa, Aceh Timur, Maret 2011
Ikang Fawzi & Marissa haque Duta LP3I di Langsa, Aceh Timur, Maret 2011

LP3I Langsa, aceh Timur, Kampung halaman Bapak Dr. Syahrial (Owner LP3I)

LP3I Langsa, aceh Timur, Kampung halaman Bapak Dr. Syahrial (Owner LP3I)
Marissa Haque & Ikang Fawzi: Promo LP3I Langsa, Aceh Timur, Maret 2011

Asmaul Husna, Islam, Aceh, Ikang Fawzi, Marissa Haque, LP3I

Asmaul Husna, Islam, Aceh, Ikang Fawzi, Marissa Haque, LP3I
Asmaul Husna, Islam, Aceh, Ikang Fawzi, Marissa Haque, LP3I

Duta LP3I Marissa Haque & Branch Manager LP3I Langsa, Aceh Timur, Bapak Zulkifli

Duta LP3I Marissa Haque & Branch Manager LP3I Langsa, Aceh Timur, Bapak Zulkifli
Duta LP3I Marissa Haque & Branch Manager LP3I Langsa, Aceh Timur, Bapak Zulkifli

Pendaftaran LP3I Tahun Ajaran 2010-2011

Telah dibuka Pendaftaran siswa baru tahun Ajaran 2010-2011 Semua Jurusan LP3I Business College Cabang Langsa. Informasi Pendaftaran Silakan Datang Langsung Ke LP3I Cabang Langsa JLN.ISKANDAR SANI NO. 10-11. KAMPUNG MEUTIA KOTA LANGSA. TELP. 0641 22312, SMS 081269246490 atau Melalui Pendaftaran Online KLIK DISINI
Tampilkan postingan dengan label Vonny Lydia Edi. Medan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Vonny Lydia Edi. Medan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 April 2011

Tentang Aceh: Marissa Haque & Ikang Fawzi


Aceh yang sebelumnya pernah disebut dengan nama Daerah Istimewa Aceh (1959-2001) dan Nanggroe Aceh Darussalam (2001-2009) adalah provinsi paling barat di Indonesia. Aceh memiliki otonomi yang diatur tersendiri, berbeda dengan kebanyakan provinsi lain di Indonesia, karena alasan sejarah. Daerah ini berbatasan dengan Teluk Benggala di sebelah utara, Samudra Hindia di sebelah barat, Selat Malaka di sebelah timur, dan Sumatera Utara di sebelah tenggara dan selatan.

Ibu kota Aceh ialah Banda Aceh. Pelabuhannya adalah Malahayati-Krueng Raya, Ulee Lheue, Sabang, Lhokseumawe dan Langsa. Aceh merupakan kawasan yang paling buruk dilanda gempa dan tsunami 26 Desember 2004. Beberapa tempat di pesisir pantai musnah sama sekali. Yang terberat adalah Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat, Singkil dan Simeulue.

Aceh mempunyai kekayaan sumber alam seperti minyak bumi dan gas alam. Sumber alam itu terletak di Aceh Utara dan Aceh Timur. Aceh juga terkenal dengan sumber hutannya, yang terletak di sepanjang jajaran Bukit Barisan, dari Kutacane, Aceh Tenggara, Seulawah, Aceh Besar, sampai Ulu Masen di Aceh Jaya. Sebuah taman nasional, yaitu Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) juga terdapat di Aceh Tenggara.

Penyanyi-penyanyi Lawas Masih Pukau Penggemar: Acara Mbak Vonny Lidya Edi dalam Marissa Haque & Ikang Fawzi

Para penyanyi lagu-lagu lawas seperti Obbie Mesakh, Christine Panjaitan, Dian Pishesa dan, Achmad Albar menyapa pengemarnya dalam konser bertajuk “Tembang Album Kenangan” yang digelar di Kota Banda Aceh, Sabtu (20/2) malam. Konser tembang kenangan itu dibuka dengan lagu berjudul Love milik D`Mercy yang dinyanyikan Helmi Yahya selaku pembawa acara.

Tembang tempo dulu itu seakan menghipnotis penikmatnya yang juga ikut bernyanyi saat sang penyanyi mendendangkan lagu yang melejitkan nama mereka pada era 80-an. Seperti tembang berjudul Katakan Sejujurnya yang dinyanyikan dengan apik oleh Christine Panjaitan. Lagu yang diciptakan musisi Rinto Harahap sekitar 1986 itu menghanyutkan pendengarnya.

Begitu juga dengan lagu Kisah Kasih di Sekolah yang didendangkan Obbie Mesakh, membawa penggemarnya kembali ke masa-masa sekolah. Dian Pishesa juga tidak ketinggalan dengan lagu andalannya berjudul Tak Ingin Sendiri atau lebih dikenal dengan judul Aku Masih Seperti yang Dulu.

Dan, suasana semakin meriah saat roker gaek Achmad Albar memanjakan ratusan pemirsa dengan lagu lawas Sudahlan Aku Pergi ciptaan Yongki Suwarno. Vokalis grup band God Bless itu juga menyanyikan Syair Kehidupan dan Dunia Panggung Sandiwara. Hentakan musik bertempo cepat yang mengiringi lagu Kehidupan kian meriahkan suasana.

Voni Waluyo dari Nostalgia Fan`s Club mengatakan, sudah sejak lama ingin menggelar Tembang Lagu Kenangan di Aceh. Namun, baru kali ini berhasil mengabulkan keinginan tersebut. Untuk pertama kalinya, acara itu digelar di Aceh. “Saya sangat bahagia dan terharu akhirnya bisa menggelar Tembang Lagu Kenangan di Banda Aceh, yang juga tanah kelahiran saya. Saya harap ke depan acara yang sama bisa kembali di gelar di Aceh,” kata Voni.

Para penyanyi lawas itu menghibur penggemarnya hingga hampir selama tiga jam. Di sela-sela tembang, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf beserta istri, Darwati A. Gani menerima penghargaan dari panitia acara. Pada acara yang diselenggarakan di Hermes Palace Hotel itu juga turut dihadiri sejumlah pejabat teras di Aceh.

sumber : liputan 6

Iskandar Norman dalam Marissa haque & Ikang Fawzi: Catatan Perjuangan di Aceh

138 Tahun Invansi Belanda ke Aceh

26 Maret 2011, tepat 138 tahun peristiwa paling bersejarah bagi Aceh terjadi; Belanda menyatakan perang terhadap Aceh.

Jendral Kohler

Jendral Kohler

RABU, 26 Maret 1873, di atas kapal Citadel van Antwerpen, Kerjaan Belanda menyatakan maklumat perang dengan Kerajaan Aceh. Setalah itu serangan besar-besaran dilakukan ke daratan Aceh. Belanda gagal total, Panglima Perang Belanda, JHR Kohler tewas.

Surat pernyataan perang oleh Belanda itu ditulis pada 26 Maret 1873, dan disampaikan kepada Sultan Aceh pada 1 April 1873. Pernyataan perang itu antara lain berbunyi. “Dengan ini, atas dasar wewenang dan kekuasaan yang diberikan kepadanya oleh Pemerintah Hindia Belanda, ia atas nama Pemerintah, menyatakan perang kepada Sulthan Aceh..”

Pernyataan perang pihak Belanda itu dijawab dengan tegas oleh Sulthan Alaiddin Mahmud Syah pada hari itu juga. “…kita hanya seorang miskin dan muda, dan kita sebagai juga Gubernemen Hindia Belanda, berada di bawah perlindungan Tuhan yang maha kuasa…,”

Penolakan secara halus itu membuat Belanda berang dan berencana untuk melancarkan serangan ke Aceh setelah membacakan maklumat perang terhadap Aceh. Maklumat itu dibacakan setelah beberapa kali surat menyurat yang tegang antara sultan Aceh dengan Komisaris Pemerintah Belanda, Niewenhuijzen yang berlindung di atas kapal perang Citadel van Antwerpen.

Menurut Ali Hasjmy dalam “Peranan Islam dalam Perang Aceh” isi surat penolakan itu terkesan lembut, tapi pada hakikatnya adalah suatu pernyataan keteguhan hati dan iman seorang muslim sejati yang hanya mengakui kekuasaan dan perlindungan Tuhan.

Untuk menghadapi ancaman Belanda itu, maka Sultan Alaiddin Mahmud Syah menggelar musyawarah kerajaan pada 10 Zulkaidah 1288 Hijriah (1872 Masehi) di dalam Mesjid Baiturrahim Daruddunia. Dalam musyawarah itu hadir para ulama besar, menteri dan uleebalang seluruh Aceh.

Kala itu Sulan Aceh menjelaskan tentang bahaya yang sedang mengancam Aceh, yakni datangnya imperialis Belanda yang akan memerangi Aceh. Terhadap ancaman itu, muasyawarah melahirkan kesepakatan dan keputusan akan melakukan perang total kalau Belanda menyerang Aceh.

Sebagai tanda kesepakatan tekad itu, maka para peserta musyawarah mengucapkan sumpah. Pengambilan sumpah dipimpin oleh Kadli Mu’adhdham Mufti Besar Aceh, Syekh Marhaban bin Haji Muhammad Saleh Lambhuk dengan disaksikan oleh para alim ulama Aceh. Sumpah tersebut berbunyi:

“Demi Allah, kami sekalian hulubalang khadam Negeri Aceh, dan sekalian kami yang ada jabatan masing-masing kadar mertabat, besar kecil, timur barat, tunong baroh, sekalian kami ini semuanya, kami thaat setia kepada Allah dan Rasul, dan kami semua ini thaat setia kepada Agama Islam, mengikuti Syariat Nabi Muhammad Saw, dan kami semua ini thaat setia kepada raja kami dengan mengikuti perintahnya atas yang hak, dan kami semuanya cinta pada Negeri Aceh, mempertahankan dari pada serangan musuh, kecuali ada masyakkah, dan kami semua ini cinta kasih pada sekalian rakyat dengan memegang amanah harta orang yang telah dipercayakan oleh empunya milik. Maka jika semua kami yang telah bersumpah ini berkhianat dengan mengubah janji seperti yang telah kami ikral dalam sumpah kami semua ini, demi Allah kami semua dapat kutuk Allah dan Rasul, mulai dari kami semua sampai pada anak cucu kami dan cicit kami turun temurun, dapat cerai berai berkelahi, bantah dakwa-dakwi dan dicari oleh senjata mana-mana berupa apa-apa sekalipun. Wassalam.”

Sumpah ini kemudian dimasukkan dalam sarakata Baiat Kerajaan, bertulis tangan dengan huruf Arab. Naskahnya ditemukan kembali dalam dokumen peninggalan Wazir Rama Setia Kerajaan Aceh Said Abdullah Di Meulek. Naskah asli kini disimpan Said Zainal Abidin salah seorang keturunan Di Meulek, sementara foto kopinya ada di Pustaka Ali Hasjmy di Banda Aceh.

Belanda Menyerang Aceh

Setelah maklumat perang dinyatakan pada 26 Maret 1873, sebulan kemudian, Senin, 6 April 1973, Belanda mendaratkan pasukannya di Pante Ceureumen, Ulee Lheue dibawah pimpinan Mayor Jenderal J.H.R Kohler.

Tak tanggung-tanggung, dalam penyerangan pertama ke Aceh itu, Belanda mengerahkan enam kapal perang, yakni Djambi, Citaden van Antwerpen, Marnix, Coehoorm, Soerabaya, dan kapal perang Sumatera. Ditambah Siak dan Bronbeek, dua kapal angkatan laut Pemerintah Belanda.

Selain itu ada lima barkas, delapan kapal ronda, satu kapal komando, enam kapal pengangkut, serta lima kapal layar, yang masing-masing ditarik oleh kapal pengangkut. Tiga diantaranya untuk mengangkut pasukan alteleri, kavelari, dan para pekerja, satu untuk amunisi dan perlengkapan perang, serta satu kapal lagi untuk mengangkut orang-orang sakit.

Armada Belanda tersebut dipimpin oleh Kapten laut J.F Koopman dengan kekuatan 168 orang perwira yang terdiri dari 140 orang Eropa, serta 28 orang Bumiputere, 3.198 pasukan yang 1098 diantaranya orang-orang Eropa, sisanya 2.100 orang tentara dari Bumi Putera, yakni tentara bayaran Belanda dari Jawa.

Pasukan itu juga diperkuat dengan 31 ekor kuda perwira, 149 kuda pasukan, 1.000 orang pekerja dengan 50 orang mandor, 220 wanita dari Jawa yang masing-masing ditempatkan 8 orang untuk satu kompi tentara Belanda, serta 300 pria dari Jawa untuk pelayan para perwira Belanda. Dalam penyerangan perdana Belanda ke Aceh itu, Kohler dibantu oleh Kolonel E.C van Daalen, Wakil Panglima merangkap Komandan Infantri.

Begitu mendarat, pasukan Belanda langsung digempur oleh pasukan Aceh, terjadilah perang sengit. Setelah bertempur dengan susah payah, pada 10 April 1873, Belanda dapat merebut Mesjid Raya. Akan tetapi karena tekanan-tekanan dari pejuang Aceh yang dipimpin Tgk Imuem Lueng Bata, Belanda pun harus meninggalkan Mesjid Raya.

Empat hari kemudian, 14 April 1873, Belanda kembali mencoba untuk menyerang Mesjid Raya. Dalam pertempuran tersebut Panglima Perang Belanda, Mayor Jenderal J.H.R Kohler tewas ditangan pejuang Aceh. Tujuan Belanda untuk menguasai Dalam (Kraton-red) gagal total.

Pada pertempuran itu selain Kohler dipihak Belanda juga tewas delapan orang perwira. Belanda benar-benar mendapat tamparan dari perlawanan gigih pejuang Aceh. Tiga hari setelah Kohler tewas, Belanda mengundurkan diri ke pantai, setelah mendapat izin dari Pemerintah Hindia Belanda di Batavia (Jakarta-red) pada 23 April 1873. Kapal-kapal angkatan perang Belanda itu pun meninggalkan Aceh pada 29 April 1873, kembali ke Batavia.

Karena Belanda mengalami kegagalan dalam penyerbuannya ke Aceh, tak lama kemudian Jenderal G.P Booms dalam bukunya “De Erste Atjeh Expediti en Hare Enguete” mengecam Pemerintah Kolonial Belanda di Batavia atas kegagalan tersebut, karena dinilai terlalu menganggap remeh kekuatan Aceh.

Dalam buku itu ia menulis, “Blijkbaar rekende men dus op een gemakkelijke overwinning. De feiten, een jarenlange ervaring, hebben echtar getoond, dat men te maken had men telrijken, energieken vijand,…met een volk van een ongekende doodsveracting,dat zich onverwinbaar achtte…die ervaring leert in een woord, dat wij niet gestaan hebben tegenover een machteloozen sultan wiens rijk met den valvan zijn kraton zou ineenstorten maar tegenover een volksoorlong,die behalve over al de materieele middelen vaqn het land, over geweldige moreele krachten van fanatisme of patriotisme beschikte..”

Artinya: telah diperkirakan suatu kemenangan yang akan diperoleh dengan mudah. Akan tetapi, pengalaman bertahun-tahun lamanya memberikan petunjuk, bahwa yang dihadapi itu adalah musuh dalam julah besar yang sangat gesit ….. suatu bangsa yang tidak gentar menghadapi maut, yang menganggap ia tidak dapat dikalahkan…. Pengalaman itu memberi pelajaran, bahwa kita tidak dapat mengahadapi seorang Sultan, yang kesultanannya akan berubah dengan jatuhnya kraton, akan tetapi kita menghadapi rakyat yang menentukan harta benda negara, memilki tenaga-tenaga moril, seperti cinta tanah air.”

Dalam sidang Palemen Belanda ada tanggal 15 Mei 1877, Menteri Urusan Koloni, Belanda memberikan jawaban atas interpelasi yan menyoalkan kegagalan Belanda itu, “Wij hebben te trotseeren gehad een ongekande doodsveracthing, een volk dat zich onverwinbaar achtte.” Artinya “Kita telah menghadapai maut, bangsa yang menganggap ia tidak sedikit pun gentar menghadapi maut, bangsa yang menganggap ia tidak mugkin dapat dikalahkan.”

Kegagalan Belanda itu terus saja dibicarakan, sampai Belanda pun menaruh hormat atas keberanian pejuang Aceh baik pria maupun wanita. Rasa hormat itu sebagaimana diungkapkan H C Zentgraaff dalam bukunya “Atjeh” ia menulis. “De atjehschevrouw, fier en depper, was de verpersoonlijking van den bittersten haat jegens ons, en van de uiterste onverzoenlijkheid an als zij medestreed, dan deed zij dit met een energie en doodsverachting welke veelal die der mennen overtroffen. Zij was de draagster van een haat die brandde tot den rand van het graf en nog in het aangezicht van den dood spuwde zij hem, den kaphe in het geizcht”.

Artinya “Wanita Aceh gagah dan berani mereka pendukung yang tidak mungkin didamaikan, terhadap kita dan bila ia turut serta bertempur, dilakukannya denga gigih dan mengagumkan, bersikap tidak takut mati yang melebihi kaum pria. Ia mempunyai rasa benci yang menyala-nyala sampai liang kubur dan sampai saat mehhadapi maut, ia masih mampu mendahului muka si kaphe.”

Zentgraaff menilai, wanita Aceh dalam setiap perang menolak setiap perdamaian dan lebih berwatak keras dengan berprinsip membunuh atau dibunuh. Pujian Zentgraaff terhadap wanita Aceh muncul setelah ia menemuai Pocut Di Biheue, seorang wanita pemberani yang menyerang patroli Belanda seorang diri. Kemudian ada lagi kisah keuletan Pocut Baren, yang kakinya harus diamputasi.

Ada lagi kisah istri Teungku Mayed Di Tiro, putra Tgk Chik Di Tiro. Dalam pertempuaran pada tahun 1910, meski sudah dikepung pasukan Belanda, Tgk Mayed Di Tiro bisa meloloskan diri atas bantuan istrinya. Sementara istrinya tertangkap dengan luka para di tubuhnya, sewaktu komandan pasukan Belanda hendak memberikan pertolongan, ia menolaknya. “Bek ta mat kei kaphe budok (jangan sentuh aku kafir celaka),” hardiknya dengan suara lantang. Ia lebih memilih syahid dari pada mendapat pertolongan dari kafir.

Hal yang sama juga diakui oleh Panglima Perang Belanda di Aceh, Jenderal Van Pel. Dalam buku ES Klerek: History of Netherland Eas Indie ia mengakui jatuhnya mental tentara Belanda akibat perlawanan sengit dari rakyat Aceh. Ia menulis:

“The proclamation of direct rule over Acheh pi proper had been a mistaken idea; there could be not question of conquest for the time being, the standing army in Acheh beingdepleted by the heavy losses suffered and the consequent large drainage of force.” (Proklamasi tentang langsung dijajah/diperintah Aceh, sesungguhnya adalah cita-cita yang amat salah. Sebenarnya soal menang tidak ada waktu itu. Keadaan serdadu di Aceh sangat menyedihkan karena menderita kekalahan hebat dan akibatnya kemusnahan kekuatan yang besar).[]

Penulis Iskandar Norman

Marissa Haque & Ikang Fawzi: Pendaftaran Siswa Baru Tahun Ajaran 2010-2011


Telah dibuka Pendaftaran siswa baru tahun Ajaran 2010-2011 Semua Jurusan LP3I Business College Cabang Langsa. Informasi Pendaftaran Silakan Datang Langsung Ke LP3I Cabang Langsa JLN.ISKANDAR SANI NO. 10-11. KAMPUNG MEUTIA KOTA LANGSA. TELP. 0641 22312 SMS 081269246490 atau Melalui Pendaftaran Online KLIK DISINI

Kompas Cyber Media: Aceh Dikunjungi Marissa Haque Istri Ikang Fawzi

Marissa Haque Akan Tampil Dalam Seminar Kebudayaan NAD

(1) Sumber: http://www.marissahaque-dulu-pdip.net/berita/seminar.php
(2) Sumber: Kompas Cyber Media, Jakarta

Haque Sisters, Marissa and Soraya, Shahnaz Bintang film Hj Marissa Haque dipastikan akan hadir sebagai nara sumber dalam seminar kebudayaan Aceh yang diselenggarakan panitia Hari Pers Nasional (HPN) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) bekerja sama dengan Kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Jumat (2/4).

Kepastian tampilnya isteri Ikang Fawzy itu disampaikan Ketua Panitia HPN Provinsi NAD Saidulkarnain Ishak di Banda Aceh, Rabu. Menurut dia, kedatangan bintang film itu tepat waktu karena pemerintah daerah Provinsi NAD telah mencanangkan 2004 sebagai tahun budaya masyarakat daerah itu.

"Seyogianya seminar ini dilaksanakan hari Kamis, 1 April 2004, namun karena suatu lain hal maka ditunda menjadi hari Jumat. Kami berpikir, penundaan ini ada hikmahnya. Yang kita harapkan sukses dan kegiatan ini membawa manfaat dalam upaya mengembalikan nilai-nilai budaya masyarakat Aceh," katanya.

Pelaksana tugas Dinas Kebudayaan Provinsi NAD Drs H A Madjid AR menyambut baik seminar yang diprakarsai panitia HPN PWI NAD. Seminar ini merupakan sumbangsih pemikiran wartawan anggota PWI Provinsi NAD dalam upaya mengangkat potensi budaya bernuansa Islami masyarakat daerah "Serambi Makkah" tersebut.

"Kami menyambut positif kegiatan ini, apalagi panitia menghadirkan bintang film Marissa Haque. Seminar kebudayaan ini sejalan dengan pencanangan tahun 2004 sebagai tahun budaya masyarakat Aceh oleh Gubernur H Abdullah Puteh," katanya didampingi Kasubdin Bina Program Dinas Kebudayaan H Maulisman Hanafiah.

Saidulkarnain menjelaskan, Marissa Haque akan menjadi nara sumber dan dia diharapkan dapat memberi kontribusi pemikiran tentang bagaimana pandangan orang luar terhadap kebudayaan Aceh dalam seminar yang diikuti sekitar 200 tersebut.

Marissa Haque diharapkan dapat memberi kontribusi pemikiran akurat tentang bagaimana pandangan orang luar daerah Provinsi NAD terhadap budaya masyarakat Aceh. Ini penting untuk memberi motivasi bagi masyarakat provinsi ujung paling barat di Indonesia itu, tambahnya.

Dia mengatakan, selain nara sumber Marissa Haque, panitia juga menampilkan pemakalah dari kampus Darussalam, yakni pakar sejarah Prof Dr M Isa Sulaiman dan pakar hukum adat Aceh Drs HA Hamid Sarong SH MH yang juga dekan Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry.

"Melalui seminar ini diharapkan dapat mengangkat kembali nilai-nilai budaya masyarakat Aceh yang dalam beberapa dasawarsa terakhir terlihat memudar. Misalnya, perilaku disiplin dalam kehidupan dan berkata jujur dan benar," katanya.

Adat dan kebiasaan masyarakat tempo dulu yang sejalan dengan ajaran Islam seyogianya perlu digali dan diimplementasikan dalam kehidupan, sehingga pemberlakuan syariat Islam di daerah ini berjalan seiring dengan kesadaran yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat.

Nilai-nilai budaya masyarakat yang relevan dan tidak bertentangan ajaran Islam perlu dikembalikan agar kehidupan masyarakat daerah ini lebih terlihat nuansa Islami penuh trendi dengan gaya modern religi.

"Kami berharap, kegiatan yang berhasrat mengembalikan nilai-nilai budaya masyarakat Aceh ini dapat menggugah semua pihak untuk mengimplementasikan budaya bernuansa Islami. Panitia juga berupaya membantu pemerintah daerah di bidang budaya," demikian Saidulkarnain Ishak.(Ant/jy)

Sumber: Kompas Cyber Media, Jakarta

Duta LP3I Hj.Marissa Haque & Undangan LP3I Langsa, Aceh Timur Kampung Halaman Dr. Syahrial

Duta LP3I Hj.Marissa Haque & Undangan LP3I Langsa, Aceh Timur Kampung Halaman Dr. Syahrial
Duta LP3I 2010-2011, Hj. Marissa Haque & Ikang Fawzi: Promo LP3I Langsa, Aceh Timur, Maret 2011

Entri Populer